Enjoy Your Day With a Smile

Kamis, 06 Juni 2013

Dear Brother, You is My Pray dan My Hope

Tepat 20 tahun yang lalu pertama kali aku melihat dunia ini. Aku dilahirkan dari keluarga yang cukup bahagia. Ibuku seorang guru dan Ayahku adalah seorang pedagang swasta. Aku ingat, sampai saat aku berumur 6 tahun aku masih belum memiliki seorang adik. Sedangkan hampir semua teman-temanku telah memiliki seoraang adik. Ada rasa iri di dalam hati terutama saat melihat mereka bercanda bermain bersama atau saat aku melihat mereka saling menjahili, bergurau sampai tertawa lepas bersama. Akh.. itu mengasikkan sekali, sedangkan aku... aku tidak pernah merasakan semua itu, tidak ada orang yang bisa aku sayangi sebagai adik. Sebagai tempat berbagi atau tempatku untuk mencurahkan perhatian. Pernah sesekali ada beberapa temanku bertanya padaku “apa kamu tidak ingin punya seorang adik?” “ah, nggak mana enak punya adik, nanti malah berantem tiap hari, itu kan gak asik” jawabku. Padahal dalam hati ingin aku jawab “ iya, aku ingin sekali punya seorang adik” namun aku bilang tidak, agar teman-temanku mengira aku nyaman dengan keadaanku sebagai anak semata wayang. Padahal tidak, aku sering kesepian di rumah. Tidak ada tempat ku bercerita tentang hal-hal rahasia bagi seorang anak seperti kejadian konyol, kenakalan, dan hal-hal lucu yang terjadi saat aku di sekolah atau sepulang bermain yang rasanya kurang pas jika ku ceritakan kepada kedua orang tuaku. Juga tidak ada teman yang bisa aku ajak main saat aku dirumah sendirian atau ketika teman-temanku tidak bisa bermain denganku. Beberapa kali aku bilang kepada kedua orang tuaku bahwa aku ingin punya seorang adik. Ingin sekali, aku minta seorang adik laki-laki, biar bisa jadi teman untuk aku ajak main. Begitu pintaku kepada ibuku saat suatu malam ia menemaniku sebelum aku tidur. Iya bang, nanti pasti ibu kasi abang adik. Tapi sekarang Allah belum memberikan abang seorang adik. Jadi sabar ya, suatu saat pasti abang punya adik. Itu jawaban ibu yang sedikit membuatku tenang dan mempuyai harapan besar untuk mempunyai seorang adik untuk teman mainku. Sampai akhirnya aku terlelap dan bermimpi indah di malam itu.

8 tahun yang lalu tepatnya aku berumur 12 tahun saat itu aku sudah duduk di bangku SMP. Teman-temanku semakin banyak dan beberapa dari mereka ada yang menjadi sahabatku sampai sekarang. Namun sampai saat itu ternyata doaku masih belum di jawab oleh Allah karena aku belum memiliki seorang adik kandung. Aku tak pernah berhenti berharap bila suatu saat nanti aku akan memiliki seorang adik. Sempat aku berjanji pada diriku sendiri dan kepada Allah jika aku diberikan seorang adik aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayanginya. Aku simpan janji itu dalam hatiku dan aku sisipkan kata kata itu disetiap doa-doaku. Walaupun aku memiliki banyak teman dan sudah jarang merasa kesepian tapi ada kalanya perasaan itu datang sesekali. Rasa sepi dan harapan serta bayangan akan hadirnya sesosok adik di rumahku. Seseorang yang akan selalu aku lindungi dan aku jaga, seseorang yang bisa aku sayangi, Seseorang yang akan menjadi tempatku bercerita tentang segala hal sebelum aku tidur, serta seseorang yang akan menemaniku saat aku merasa sendiri dan kesepian di rumah. Namun semua itu masih tetap menjadi mimpi bagiku.

Beberapa tahun berlalu kini aku duduk di bangku SMA. Namun kenyataan berkata lain. Saat aku duduk di kelas XI Ibu dan Ayahku resmi bercerai karena suatu hal. Itu adalah pukulan yang berat bagiku. Aku bingung, aku tidak pernah menyangka semua akan menjadi seperti ini. Lambat laun keadaan itu membuat sifat dan sikapku berubah drastis. Aku menjadi seorang yang pendiam, aku lebih memilih menyendiri saat di sekolah atau sepulang sekolah aku lebih memilih berdiam diri dirumah. Menghabiskan waktu dengan merenung atau jika aku bosan di rumah biasanya aku pergi bermain game di warnet. Dan itu cukup membuatku bisa sedikit melupakan semua yang telah terjadi. Sejak perpisahan itu aku memilih tinggal bersama dengan ayahku.

Suatu ketika, aku sedang sendiri di rumah saat itu ayahku sedang pergi bekerja, terpikirkan olehku tentang apa yang telah terjadi. Mungkin inilah jawabannya mengapa Tuhan tidak pernah memberikanku seorang adik. Mungkin inilah alasannya. Aku membayangkan apa yang akan ia dialami dan dirasakannya jika dia ada. Berat.. Semua akan jadi buruk baginya. Dan aku tidak akan pernah ingin itu terjadi, aku tidak akan pernah mau dia merasakan semua yang aku rasakan. Cukup aku yang menanggung semua ini, karena aku mampu. Aku bisa mengatasi semua ini dengan caraku. Tapi dia? Mungkin tak cukup kuat menghadapi semua ini. Itu hanya akan menjadi kesedihan dan sebuah kekecewaan. Benar-benar aku tidak ingin dia merasakan semua itu. Dan sejak saat itu aku mengerti bahwa “Tuhan selalu mempunyai alasan yang tepat saat Ia tidak mengabulkan sesuatu hal yang kita pinta.”

Waktu berlalu begitu cepat aku telah lulus SMA dan melajutkan pendidikan di Ibukota. Aku mengambil jurusan keguruan disalah satu universitas disana. Itu berarti aku harus meninggalkan rumah. Terasa berat saat pertama kali meninggalkan ayahku sendirian di rumah. Tidak ada yang menemaninya, tapi harus bagaimana lagi. Semua memang harus seperti ini. Dan sepertinya ayahku cukup siap dan percaya melepasku untuk mulai belajar menjalani hidup sendiri. Di sana aku tinggal di rumah kos-kosan tak jauh dari kampusku. Tidak begitu berat bagiku untuk hidup sendiri. Karena sebelumnya juga aku sudah terbiasa sendiri.

Lambat laun baru aku sadari ternyata selama ini Tuhan mendengar semua doaku. Dia telah mengenalkankanku dengan orang-orang baru. Mereka adalah teman-teman kecilku. Karena hobiku bermain game di warnet aku banyak bertemu dengan anak-anak yang juga maniak bermain game disana aku sangat akrab dengan mereka. Anak-anak yang baik dan masih polos. Aku dan mereka sangat dekat karena hampir setiap hari kami menghabiskan waktu bersama di warnet. Mulai dari sepulang sekolah hingga kadang tanpa aku sadari ternyata hari sudah sore dan hampir magrib. Tentu saja itu membuatku dimarah oleh ayahku. Seharian bersama mereka aku bermain, bercanda, bergurau, bercengkrama, hingga kadang tertawa terbahak-bahak. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal yang biasa, tapi bagiku itu adalah suatu kebahagiaan. Karena itu tidak pernah aku dapatkan dan aku rasakan sebelumnya. Hal yang teramat sangat langka di hidupku. Aku anggap mereka semua adik-adikku walaupun mungkin mereka menganggapku hanya sebatas teman bermain  tak masalah bagiku siapa aku di mata mereka. Aku sangat bersyukur bisa mengenal dan dekat dengan mereka setidaknya aku bisa merasakan kebersamaan bersama mereka walaupun mereka bukan adik kandungku tapi aku cukup bahagia bisa megenal dan dekat dengan mereka. Aku sangat berterima kasih kepada mereka yang saat itu baik dan mau berteman denganku. Mengenal kalian itu anugerah, dan masa-masa itu tidak akan pernah terlupakan untukku. Saat ini mereka semua sudah lulus SMA dan masing-masing berkuliah di berbagai tempat. Namun sampai sekarang juga aku dan mereka masih tetap bersahabat, bahkan menjadi sahabat dekat. Ingatlah, “ketika kita tidak bisa memiliki sesuatu Tuhan akan memberikan sesuatu itu melalui orang lain.”

Saat aku lulus SMA dan melanjutkan kuliah itu berarti aku harus meninggalkan Kota kecilku. Dan berpisah dengan teman-teman kecilku. Dari mereka semua ada satu yang aku lebih dekat dengannya. Dan aku juga tak tau pasti, mungkin dia menganggapku sebagai kakaknya. Itu terlihat dari perlakuannya kepadaku yang berbeda. Jika dengan teman-teman yang lain dia sering berkata kasar, cuek dan sering menjahili orang. Tapi tidak kepadaku, dia tidak pernah berkata kasar, selalu dekat denganku dan sama sekali dia tidak pernah menjahiliku. Saat aku bilang aku akan kuliah di ibukota dan kita tidak bisa bermain bersama-sama lagi seperti biasa. Aku ingat sekali kata-kata yang keluar dari mulutnya “yah, kita gak bisa maen bareng lagi dong, nggak asik” ekspresinya biasa saja saat melontarkan kata-kata itu. Tapi dari tatapan matanya aku tau dia merasakan kehilangan. Sorotan mata yang menatapku dalam seolah mengatakan “akan lebih baik kalau kita tetap bisa bersama-sama”. Mungkin itu hanya perasaanku saja, entahlah. Tapi hanya itu yang bisa aku artikan dari tatapan matanya. Berat rasanya saat telah terbiasa bersama dan tiba-tiba harus berpisah, ada perasaan rindu akan masa-masa yang sudah dilewati. Tapi aku sudah cukup puas dengan semua itu dan tak harus berharap lebih, semua itu cukup untukku.

Dikotaku yang baru aku juga banyak bertemu dengan orang-orang baru, mulai dari teman sekelasku di kampus, teman-teman di sekitar tempat kos ku. Sampai teman yang secara tidak sengaja ku kenal sehari-hari. Ternyata Tuhan membiarkanku sendirian mereka mengirimkanku teman-teman yang baik disisiku tempatku berbagi dan saling menjaga. Semua ini benar-benar sebuah anugerah buatku.

Hampir setiap sepulang kuliah jika tidak ada jam tambahan atau tugas dari dosen aku selalu menghabiskan waktu siangku di warnet yang berada tak jauh dari tempat kosku. Salah satu alasan aku tinggal disitu adalah karena lokasi yang strategis dan dekat dengan warnet tentunya. Seingatku saat itu tahun 2011 entah bulan berapa dan tanggal berapa aku tak tahu pasti. Saat aku sedang asik bermain ada seorang anak main di sebelahku. Anaknya cuek dan pendiam. Saat ku ajak ngobrol dia hanya bicara seadanya. Ketika itu aku bertanya tentang cheat pb “ini masih bisa gak?” tanyaku. Dia hanya menjawab “iya” tanpa menoleh kearahku sedikit pun. Karena itu aku bilang dia cuek.  Setelah itu aku tidak pernah ke warnet karena kesibukan kuliahku, baru setelah tahun 2012 sekitar bulan Februari ketika masuk semester 6 aku mulai bermain di warnet lagi karena pelajaran kuliah sudah tidak sesibuk semester awal. Secara tidak sengaja aku bertemu kembali dengan anak itu, aku tahu dan masih mengenalinya, tapi tampaknya tidak dengan dia. Aku juga pura-pura tidak kenal. Karena setiap hari bertemu pelan-pelan aku mendekati dia. Aku tidak tahu kenapa, tapi yang jelas aku hanya ingin mengenal dia saja. Sampai lama-kelamaan kami mulai saling berbicara pelan-pelan menjadi dekat dan akrab. Ternyata dibalik sikap cueknya dia anak yang cukup asik juga. Setelah beberapa bulan kemudian aku pulang ke kota asalku selama 6 bulan untuk melaksanakan praktik mengajar di salah satu SMA swasta di kotaku. Selama 4 bulan itu aku tidak pernah bertemu dia kami hanya sering mengobrol lewat facebook atau sms sesekali menelpon, tapi justu itu yang membuat kami menjadi tambah dekat.

Mungkin karena keinginanku yang ingin mempunyai seorang adik. Atau Tuhan mempertemukan kami untuk saling melengkapi dan saling berbagi, aku tidak tahu pasti. Aku  merasakan ada sebuah ikatan yang membuat kami menjadi sangat dekat. Meskipun baru saling kenal tapi aku merasa seperti sudah lama mengenalnya. Sekali lagi aku berterima kasih kepada Tuhan atas semua yang telah Dia berikan kepadaku. Aku senang saat bermain dan bersama dengannya. Rasanya seperti benar-benar adikku sendiri. Dan aku menganggap dia sebagai adikku walaupun mungkin dia hanya menganggapku sebagai teman bermain saja. Tapi aku lebih dari itu, dulu pada saat aku masih kecil aku pernah berjanji “bila aku mempunyai seorang adik aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayanginya”.  Dan aku akan menepati janjiku itu kepada dia.

Aku masih belum tahu apa akhir dari cerita ini, apakah aku bisa tetap selalu bersama. Karena sebentar lagi kuliahku selesai dan kemungkinan aku akan bekerja di kota lain. Itu berarti aku harus berpisah. Dan aku akan benar-benar merasakan kehilangan. Aku tidak mau itu, kedekatan selalu membuatku mengingat semua dan sulit untuk meninggalkannya. Tapi aku hanya berharap yang terbaik kepada Allah, apapun yang terjadi pasti itu yang terbaik. Meskipun nantinya aku harus berpisah dengannya, aku yakin itulah jalan yang terbaik. Mungkin terbaik untuk aku dan untuk dia. Karena kami punya jalan hidup masing-masing. Yang jelas aku senang bisa mengenal dia dan dekat dengannya. Aku anggap itu semua anugerah-MU tentang apa yang tidak pernah aku miliki dan kau izinkan aku merasakannya melalui dia.


“Meskipun bermil-mil jarak yang memisahkan, Sahabat tidak pernah terpisah karena persahabatan tidak diukur dengan jarak melainkan dengan hati.” Dan “Masa-masa indahku telah berubah dari tawa menjadi kenangan. Sahabat baikku telah berubah dari teman menjadi keluarga”.
READ MORE - Dear Brother, You is My Pray dan My Hope

Most Popular