Enjoy Your Day With a Smile

Sabtu, 17 Desember 2011

Kondoot, Jejaring Sosial Baru Pesaing Facebook, Twitter, dan Google+


Kepala teknologi paling cemerlang Brisbane bergabung untuk menciptakan jejaring sosial baru guna mengalahkan raksasa Twitter, Facebook dan Google.

Kondoot merupakan jejaring sosial berbasis di sekitar live streaming video yang diluncurkan bulan lalu secara diam-diam. Jejaring sosial baru ini sedang membuat ‘percikan’ di ranah web.

Pengguna dari lebih dari 100 negara telah mendaftar, dengan minat terbanyak muncul dari Amerika Serikat (AS). Pengguna bisa ‘berteman’ dengan orang yang lain, seperti Facebook namun titik utama perbedaannya terletak pada banyaknya pilihan streaming video.

Kondoot membuat penggunanya mampu menyiarkan video dari rumah atau tempat bekerja langsung ke seluruh dunia. “Panggilan video dan chat teks juga bisa ditemui di jejaring social ini,” ujar juru biacara Kondoot Nathan Hoad.

Selain itu, pengguna bisa mengunggah fitur tersebut ke profilnya, lanjutnya. Jejaring social ini memiliki misi untuk menghubungkan orang dan video menjadi salah satu cara untuk melakukannya, ujarnya.

“Kami merasa kami bisa membuat ‘percikan’ besar dalam adegan media sosal,” lanjutnya. Hoad (24) yang merupakan salah satu tim programmer mengatakan, Kondoot merupakan campuran fitur terbaik situs media sosial utama.

“Kebanyakan jejaring sosial yang ada hanya melakukan hal yang mereka sajikan dan tak ada satu orang pun benar-benar bisa diatasi lebih dari itu,” katanya. Misalnya YouTube, situs besar berbagi video ini khusus melayani video namun tak cukup bagus dalam melayani sisi sosial.

“Kami pun menambahkannya pada dimensi yang lain,” ujarnya. Tim beranggotakan 10 orang itu bekerja penuh pada situs bisnis, hukum dan kebutuhan TI yang saat ini bekerja 18 jam sehari guna mengembangkan fitur baru.

Sudah lebih dari satu tahun dalam pembuatan jejaring sosial tersebut namun anggota tim yang tak membagi informasi telah berhasil menjaga ide mereka tetap tersembunyi hingga kini. “Jejaring sosial ini dimulai dari sebuah ide di sekitar April tahun lalu,” kata Hoad.

Beberapa di antara kami berkumpul untuk melihat adanya kemungkinan itu dan sejak Juni, makin banyak anggota yang bergabung seiring upaya kami membuat prototip dari jejaring sosial ini, paparnya.

Media sosial menjadi revolusi di seluruh dunia dan Facebook yang baru-baru ini mengumumkan kemampuan video chat barunya, kini mengaku telah memiliki lebih dari 750 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia.

Google yang juga berjuang di pasar ini, pada Juni lalu memperkenalkan Google + yang kini telah memiliki lebih dari 25 juta pengguna. Mari kita ‘pertempuran’ di ranah jejaring sosial ini.
READ MORE - Kondoot, Jejaring Sosial Baru Pesaing Facebook, Twitter, dan Google+

Warnet Jepang, Kecepatannya 20 Kali Lipat Warnet Indonesia

Kita pasti udah familiar dengan warnet. Kebanyakan di Indonesia warnetnya dibagi menjadi sekat kecil yang terbuka. sumpek dan nggak nyaman. Lalu seperti apakah warnet di luar negeri khususnya di Jepang? Mumpung hari libur, yuk kita lihat-lihat seperti apa sih WarNet (Internet Cafe) di Jepang sana.

 
 
Seperti juga di Indonesia, internet cafe di Jepang juga cukup banyak walaupun boleh dibilang hampir setiap rumah sudah mempunyai koneksi internet. Dan kebanyakan juga buka selama 24 jam.

Ada beberapa hal mendasar yang membedakan antara WarNet disana dibandingkan dengan disini yaitu
  • harga (mahal banget), 
  • kecepatan (cepet banget), 
  • kebutuhan (kaga cuma untuk internet).
Bicara mengenai harga, seperti biasa apa sih yang murah disana? :-) Lama penyewaan mulai dari 15 menit sampai setengah hari dengan biaya rata-rata sekitar 500 Yen (sekitar 50.000 rupiah) untuk 15 menit dan 1500 Yen (150 ribu rupiah) untuk 7-9 jam.

Nah, kalau bicara kecepatan sih tidak usah ditanya, rata-rata kecepatan internet disana saat ini
minimal 10 Mbps jadi pasti jauh lebih cepat dibandingkan di Indonesia (rata2 di Indonesia speednya 500 kb Mbps).

Internet cafe di Jepang juga kebanyakan tidak hanya sekedar tempat untuk ber-internet ria tetapi juga biasanya kita bisa membaca buku komik (manga) secara gratis dengan koleksinya yang lumayan banyak.


Dan bicara mengenai tempat itu sendiri, mereka biasanya membaginya dalam 2 bagian yaitu ruangan terbuka dan ruangan tertutup untuk privasi dengan bentuk bilik-bilik kotak (cubicles).


Dan tergantung permintaan, kita bisa memilih untuk satu bilik bisa diisi 1 orang, 2 orang atau lebih dari 2 orang. Dan kadang, mereka juga menyiapkan 2 komputer dalam satu bilik.


Sebagian besar bilik tersebut sudah dilengkapi dengan berbagai macam alat, mulai dari komputer itu sendiri, webcam, mic dan juga TV untuk menonton.

Bagi anda yang perokok seperti kami, jangan kuatir mereka juga menyediakan tempat bagi para perokok, lihat aja foto dibawah, itu ada asbak kan??

 
Walaupun sedikit mahal untuk ber-internetan disini, ada satu hal yang lumayan membuat kita sedikit senang yaitu kita bisa minum sepuasnya sampai kembung (dan GRATIS) kecuali untuk makanan kecilnya, kita harus bayar.

 
Terakhir, bicara soal kebutuhan, belakangan ini ternyata internet cafe disana tidak sekedar untuk internet tetapi juga sebagai tempat tidur bagi orang-orang tertentu seperti pekerja paruh waktu atau sama seperti Love Hotels digunakan juga untuk tempat untuk bermalam bagi orang yang sudah ketinggalan kereta.

Alasannya sama saja dengan Love Hotels, yaitu internet cafe jauh lebih murah dibandingkan dengan mereka menginap di hotel, ditambah selain bisa tidur, mereka juga bisa internetan, baca komik (manga), mandi air hangat (ada kamar mandi tetapi harus bayar biasanya) bahkan minum sampai kembung.


Satu hal yang sebenarnya sekarang menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah disana seiring dengan meningkatnya pengganguran dan juga orang yang mendadak tidak punya tempat tinggal (homeless) adalah keberadaan internet cafe sudah mulai berubah fungsi sebagai rumah sementara bagi mereka yang tidak punya tempat tinggal.


READ MORE - Warnet Jepang, Kecepatannya 20 Kali Lipat Warnet Indonesia

Most Popular