Enjoy Your Day With a Smile

Senin, 10 Januari 2011

Alasan kenapa USA Tidak Memerangi INDONESIA

Tentara Unik
Pentagon membayangkan jika AS terpaksa harus menyerang Indonesia berapa kerugian yng harus di pikul pihak AS dan berapa keuntungan pihak indonesia dari kehadiran tentara AS di sana :
Begitu memasuki perairan dataran indonesia, mereka  akan di hadang pihak bea cukai karena membawa masuk senjata api dan senjata tajam serta peralatan perang tanpa surat izin dari pemerintah RI. Ini berarti mereka harus menyediakan “Uang Damai”, coba
hitung berapa besarnya jika bawaanya sedemikian banyak.
Kemudian mereka mendirikan Base camp militer , bisa di tebak di sekitas base camp pasti akan di kelilingi oleh penjual Bakso, Tukang Es kelapa, lapak VCD bajakan, sampai obral Cel-Dam Rp. 10000 3 Pcs. Belum lagi para pengusaha komedi puter bakal ikut
mangkal di sekitar base camp juga.
Kemudian kendaraan-kendaraan tempur serta tank –tank lapis baja yang di parkir dekat base camp akan di kenakan retribusi parkir oleh petugas dari dinas perpakiran daerah. Jika dua jam pertama perkendaraan dikenakan Rp. 10.000,- (maklum tariff orang bule), berapa yang harus di bayar AS kalau kendaraan & tank harus parkir selama sebulan.
Sepanjang jalan ke lokasi base camp pasukan AS harus menghadapi para Mr. Cepek yang berlagak memperbaiki jalan sambil memungut biaya bagi kendaraan yang melewati jalan tersebut. Dan jika kendaran tempur dan tank harus membelok atau melewati pertigaan mereka harus menyiapkan recehan untuk para Mr. Cepe.
Suatu kerepotan besar bagi rombongan pasukan jika harus berkonvoi, karena konvoi yang berjalan lambat pasti akan di  hampiri para pengamen, pengemis dan anak-anak jalanan, ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi. Belum lagi jika di jalan bertemu polisi yang sedang bokek, udah pasti kena semprit kerena konvoi tanpa izin. Bayangkan berapa uang damai yang harus di keluarkan.
Di base camp militer, tentara AS sudah pasti nggak bisa tidur, karena nyamuknya masya Allah, gede-gede kayak vampire. Malam hari di hutan yang sepi mereka akan di kunjungi para wanita yang tertawa dan  menangis. Harusnya mereka senang karena bisa berkencan dengan wanita ini tapi kesenangan tersebut akan sirna begitu melihat para wanita ini punya bolong besar di punggungnya.
Pagi harinya mereka tidak bisa mandi karena di sungai banyak di lalui  ”Rudal Kuning” yang di tembakkan penduduk setempat  dari “Flying  helicopter” alias wc terapung di atas sungai.  Pasukan AS juga tidak bisa jauh jauh dari pelaratan  perangnya, karena  di sekitar base camp sudah mengintai pedagang besi  loakan yang siap  mempereteli peralatan perang canggih yang mereka  bawa. Meleng sedikit  saja tank canggih mereka bakal siap dikiloin. Belum  lagi para curanmor  yang siap beraksi dengan kunci T-nya siap merebut
jip-jip perang  mereka  yang kalau di dempul dan cat ulang bisa di jual  mahal ke anak-anak  orang kaya  yang pengen gaya-gayaan.
Dan yang lebih menyedihkan lagi badan pasukan AS  akan jamuran karena  tidak bisa berganti pakaian. Kalau berani nekat  menjemur pakaiannya  dan meleng sedikit saja, besok pakaian mereka sudah  mejeng di pasar  jatinegara di lapak-lapak pakaian bekas.
Peralatan telekomunikasi mereka juga harus di jaga  ketat, karena para  bandit kapak merah sudah mengincar peralatan canggih  itu.
Dan mereka juga harus membayar sewa tanah yang di  gunakan untuk base  camp kepada jai’ para pemilik tanah. Di samping itu  mereka  juga harus minta izin kepada RT/ RW dan kelurahan  setempat, berapa  meja yang harus di lalui dan berapa banyak dana yang  harus di siapkan  untuk meng-Amplopi pejabat-pejabat ini.
Para komandan di pasukan AS ini juga akan kena tugas  tambahan  mengawasi para prajuritnya yang banyak menyelinap  keluar base camp  buat nonton dangdut di RW 06, katanya ada Inul di  sana.
Membayangkan ini semua akhinya Donald Rumsfeld  (menteri pertahanan  Amerika) memutuskan TIDAK AKAN MENYERANG INDONESIA
!!!

Source : http://fotounik.net/cerita-lucu-alasan-kenapa-usa-tidak-membuka-military-base-di-indonesia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Most Popular